Berita Internasional    Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   
Powered by Blogger.

Popular Posts


Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Kemendibud kirim 101 guru ke Papua Barat


Manokwari - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengirim 101 tenaga guru sekolah dasar ke Provinsi Papua Barat untuk mengatasi kekurangan guru serta meningkatkan pendidikan dasar di provinsi itu.

"Guru yang dikirim oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ke Papua Barat merupakan program guru garda depan guna meningkatkan mutu pendidikan di daerah terpencil dan tertinggal di Indonesia," kata Wakil Gubernur Papua Barat Irene Manibuy di Manokwari, Jumat.

Dia mengatakan, guru yang dikirim ke Provinsi Papua Barat itu tersebar di empat Kabupaten yaitu Kabupaten Manokwari Selatan sebanyak 30 orang, Kabupaten Tambrauw 10 orang, Kabupaten Sorong 30 orang dan Kabupaten Raja Ampat 31 orang.

"Pemerintah Provinsi Papua Barat berharap guru garda depan yang dikirim pemerintah pusat ini dapat meningkatkan mutu pendidikan dasar di empat kabupaten tersebut," kata Wagub.

Ia mengakui bahwa Provinsi Papua Barat masih kekurangan tenaga guru terutama guru sekolah dasar, namun Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten terus berupaya untuk menambah guru sekolah dasar dari tahun ke tahun.

"Pemerintah Provinsi Papua Barat sedang menyurat pula kepada Presiden melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk menambah lagi jumlah guru sekolah dasar karena masih sangat kurang," ujarnya.

Selain itu, katanya, pendidikan dasar di provinsi itu sangat memprihatinkan dan perlu dibenahi oleh Dinas Pendidikan secara serius.

Menurutnya, sejak dilantik menjadi Wakil Gubernur dirinya memantau aktivitas beberapa sekolah dasar di pinggiran Manokwari, ibu kota Provinsi Papua Barat. Ia mengatakan kondisinya sangat memprihatinkan karena aktivitas belajar tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Aktivitas belajar sekolah dasar di ibu kota provinsi saja sudah tidak berjalan dengan baik apalagi sekolah yang berada jauh dari ibu kota seperti di daerah-daerah terpencil sehingga harus dibenahi, katanya.
Editor: Unggul Tri Ratomo

antaranews.com

Sejumlah Mahasiswa di Padang Tolak Penghapusan Wajib Skripsi

Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)
PADANG – Sejumlah mahasiswa di Kota Padang mengharapkan agar Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristek-Dikti), tidak menghapuskan skripsi sebagai suatu syarat kelulusan sebagai langkah untuk mencegah ijazah palsu.
“Skripsi merupakan hasil perjuangan menahun dari mahasiswa selama berkuliah, amat disayangkan bila itu dihapuskan dari syarat untuk lulus,” kata mahasiswa Universitas Ekasakti Padang, Hendri di Padang, Rabu (10/6).
Menurutnya mencari judul kemudian mengolah hingga menampilkan skripsi dalam seminar merupakan pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk kuliah.
Dengan kurikulum yang terstruktur setiap langkah demi langkah pembuatan skripsi tersebut telah memberikan kesan pada mahasiswa bahwa tidak mudah untuk menjadi sarjana.
Selain Hendri, mahasiswa Universitas Andalas (Unand) Padang, Ayu Lestari juga memiliki harapan yang sama.
Menurutnya skripsi merupakan tolok ukur kelulusan mahasiswa di perguruan tinggi. “Selain itu secara kandungan ilmu, skripsi lebih banyak memiliki referensi daripada sekedar laporan akhir saja,” ucapnya.
Senada dengan itu mahasiswa Universitas Negeri Padang, Firman mengatakan kunci menjadi sarjana berada pada tugas akhir atau skripsi.
Sebab menurutnya semua ilmu yang telah dipelajari selama kuliah ada di dalamnya. “Sekalipun itu politeknik atau jurusan yang mengharuskan praktik, tetap saja skripsi masih dibutuhkan untuk kelulusannya, ujarnya. (*/aci)
sumber : anatara

Gaji Guru Jakarta Capai Rp15 Juta


JAKARTA - Kesejahteran guru di Ibu Kota sudah terbilang lumayan. Bahkan, dalam sebulan, gaji guru di Jakarta bisa mencapai Rp15 juta.
Wakil Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sopan Adrianto, menyatakan, pemerintah provinsi DKI Jakarta memang sangat memanjakan guru. Tujuannya, agar kesejahteraan para pahlawan tanpa tanda jasa ini meningkat.
"Para guru bisa membawa Rp15 juta sampai Rp17 juta sebulan. Namun sayangnya, fakta tersebut belum berpengaruh terhadap sertifikasi serta mutu mereka," ujar Sopan, dalam Diskusi Pendidikan di Kemendikbud, Jakarta, Rabu (10/6/2015).
Program sertifikasi guru, kata Anggota Komisi X DPR RI Teguh Juwarso, merupakan kebijakan untuk mendorong kesejahteraan guru. Dengan begitu, mereka bisa fokus menjalankan profesinya.
"Anggaran dari pemerintah mencapai Rp80 triliun," tuturnya.
Konsultan Kemitraan untuk Pengembangan Kapasitas dan Analisis Pendidikan (ACDP), Totok Amin Soefijanto, menambahkan, sertifikasi guru tidak hanya membawa dampak positif tetapi juga efek kurang baik. Sisi positifnya, sistem pembayaran profesi guru menjadi lebih baik.
"Tetapi secara profesional, ternyata tunjangan sertifikasi tidak mampu meningkatkan kompetensi guru serta kualitas belajar mengajar," tambahnya.
(rfa)
 
okezone.com 

Kasus Jual Beli Ijazah, Menristek Sidak ke STIE Adhy Niaga Bekasi




Jakarta - Menristek dan Dikti M Nasir melakukan sidak ke Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Adhy Niaga, Bekasi. Sidak tersebut terkait jual-beli ijazah yang belakangan terkuak.

Pantuan di lokasi, Kamis (21/5/2015), Menteri Nasir bersama rombongan tiba sekitar pukul 11.00 WIB. Menteri Nasir lalu naik ke lantai atas mencari petugas administrasi pendidikan.

"Yang mengurus administrasi di mana?" tanya Menteri.

"Kebetulan belum pada datang," jawab salah satu dosen yang sedang mengajar.

"Saya mau lihat PDPT atau arsip yang sudah lulus," tanya menteri lagi.

Dosen yang tidak mengerti apa-apa itu terlihat kebingungan. Dirinya lalu membawa Menteri Nasir ke ruangan tempat penyimpanan data-data nama mahasiswa.

"Data mahasiswa yang baru lulus berapa? Mahasiswa yang terdaftar berapa?" tanya Nasir lagi.

Hingga saat ini Menteri Nasir masih memeriksa berkas-berkas. Dirinya terlihat sangat teliti dalam memeriksa berkas tersebut.


detik.com

Pelajar Indonesia Ikuti Latihan Jurnalistik di Tiongkok


NANCHANG - Pelajar Indonesia di Kota Nanchang, Jiangxi, Tiongkok yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok cabang Nanchang menggelar pelatihan jurnalistik. Acara yang dilaksanakan pada hari Minggu (17/5) kemarin ini bertempat di Gedung International Exchange College Universitas Nanchang. Pelatihan yang bertema “Eksis dengan Menulis” ini cukup menarik perhatian. Terbukti, sekira 30 orang mahasiswa Indonesia di kota Nanchang dengan penuh antusiasme mengikutinya.
Acara dibuka dengan laporan dari ketua ketua panitia Ria Riski Marsuki, dalam laporannya ia menyisipkan harapan agar kegiatan ini bisa menambah wawasan tentang dunia jurnalistik. Sementara itu, ketua PPIT Nanchang, Ummy Fadhilah dalam sambutannya mengatakan bahwa pelatihan jurnalistik ini adalah kegiatan yang pertama kali dilakukan oleh pelajar Indonesia khususnya di lingkup cabang dan diisi oleh narasumber profesional yang sedang menempuh kuliah di Tiongkok. Ia juga berharap agar kegiatan ini bisa melahirkan penulis-penulis baru dari PPIT Nanchang.
Pelatihan ini menghadirkan dua pemateri yang sudah ahli di bidang jurnalisme dan penulisan artikel yakni Agus Fathuddin Yusuf selaku wartawan senior Harian Suara Merdeka Jawa Tengah. Ia membawakan materi Menyajikan Berita di Media Massa. Dan Ahmad Syaifuddin Zuhri, mahasiswa S2 jurusan Hubungan Internasional Universitas Nanchang, membawakan materi 'Kiat Menulis Artikel dan Menembus Media Massa'.
Agus Fathudin Yusuf dalam materinya menyampaikan bahwa kemajuan teknologi dan informasi dewasa ini menuntut wartawan ataupun penulis lepas dalam menulis berita tidak hanya cukup dengan 5W1H (who, why, when, where, which dan how) saja. Tetapi, perlu menambahkan S atau security. “Unsur keamanan dianggap perlu demi menjamin keamanan wartawan ataupun penulis itu sendiri”, tambah Pak Agus, sapaan akrabnya yang juga wakil ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jateng ini.
Sedangkan, Ahmad Syaifuddin Zuhri mengatakan bahwa dalam menulis artikel itu harus update atau mengangkat fenomena terkini. Dan yang paling penting dalam menulis artikel itu harus diisi dengan data pendukung. “Membumbui tulisan dengan data yang akurat adalah kunci ketajaman artikel, dan untuk menembus media massa kita harus jeli dan mengikuti karakter pola penulisan dari media yang dituju,” imbuh pria yang selama kuliah di Tiongkok, tulisannya banyak menghiasi media lokal dan nasional tersebut.
"Menulis ibarat sudah menjadi candu. Semakin sering menulis dan dimuat di media massa, semakin membikin ketagihan untuk menulis. Pengalaman dan keahlian inilah yang ingin ditularkan oleh dia kepada seluruh peserta pelatihan jurnalistik," tambahnya.
Kegiatan ini semakin menarik ketika sesi tanya-jawab dibuka, antusiasme para peserta pelatihan sangat besar. Berbagai pertanyaan pun bermunculan. Salah seorang peserta menanyakan bagaimana cara menghadapi kesulitan dalam memulai menulis? Kedua pemateri tersebut mempunyai jawaban yang seirama bahwa menulis itu perlu dipaksa. Menulis bagai mata pisau, semakin diasah semakin tajam, semakin banyak menulis semakin ahli.
Di akhir acara, para pemateri menantang para peserta untuk mengaplikasikan materi yang sudah didapatkan. Peserta diminta untuk menuliskan berita singkat dari kegiatan Pelatihan Jurnalistik ini. Di samping itu pemateri meberikan motivasi kepada peserta agar berani untuk menulis dengan slogannya dalam bahasa mandarin 'Xin Hao, Xing Hao, Ming Neng Gai Hao' yang artinya hati baik, perbuatan baik, nasib akan berubah baik.
Semoga berakhirnya kegiatan hari ini tidak mengakhiri semangat peserta pelatihan untuk menulis, tetapi semakin memacu para peserta untuk berlomba-lomba menggali bakatnya dalam menulis. Agar mahasiswa tidak hanya ahli di bidangnya masing-masing. Tetapi, mempunyai nilai tambah yaitu keahlian menulis yang dimilikinya.(afr)

okezone.com

Peringkat Sekolah di RI Nomor 69 Versi OECD, Ini Kata Mendikbud Anies


Jakarta - Organisasi kerjasama dan pembangunan Eropa (OECD) merilis analisa peringkat sekolah-sekolah global yang menempakan Indonesia di urutan 69 dari 76 negara. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengakui masih banyak sekolah yang standar pelayanannya di bawah standar minimum.

"Sekolah yang memenuhi standar pelayanan minimum di Indonesia hanya 25 persen. 75 persen tidak. Ini jadi PR besar kita bersama. Tidak usah ditutup-tutupi," kata Anies saat ditanya tanggapan tentang hasil analisa OECD di kantornya, Jl Jenderal Sudirman, Jaksel, Jumat (15/5/2015).

Ia mengatakan seharusnya perbaikan sistem pendidikan mengacu 8 standar pendidikan nasional yang meliputi standar kompetensi kelulusan, isi, proses, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan pendidikan dan penilaian pendidikan. Menurutnya, karena selama ini UN selalu dijadikan standar kelulusan siswa maka fokus guru, sekolah dan orang tua murid ada pada UN saja.

"Karena UN jadi syarat kelulusan, semuanya konsen ke UN saja. Seakan-akan UN penentu semuanya. Padahal saat kita dinilai antar bangsa, banyak faktor yang dimasukkan," sambungnya.

Pencabutan UN sebagai tolak ukur kelulusan dinilainya bisa menjadi salah satu jalan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Murid diharapkan dapat belajar karena merasa membutuhkan dan bukan hanya mengejar nilai UN yang baik. Pihak sekolah pun dinilainya akan semakin memperbaiki kualitas pendidikan secara menyeluruh dan tidak fokus dengan nilai UN nasional tertinggi.

"Penilaian kinerja pada 8 standar pendidikan. Pendidikan sekolah, pendidikan daerah dapat ditingkatkan dengan nggak ada UN,"pungkasnya.

Dalam analisa peringkat sekolah dari 76 negara yang dibuat OECD itu, Singapura menduduki peringkat pertama dan diikuti oleh Hong Kong.

Lima posisi teratas diambil oleh negara-negara Asia - Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan dan Jepang. Lima negara dengan peringkat terendah adalah Oman di posisi 72, Maroko, Honduras, Afrika Selatan dan Ghana di tempat terakhir.
Sementara Indonesia menduduki posisi nomor 69 dari 76 negara.

Inggris menempati peringkat 20, sedangkan beberapa negara Eropa lainnya berprestasi lebih baik. Amerika Serikat bertengger di posisi 28.

Sumber: detik.com

 
Copyright © 2014 Suara Jagad. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger